Siapkan Kebutuhan Masa Pensiun Sekarang

Pertama adalah kita hidup semakin panjang, di mana kita mungkin akan menghabiskan waktu 20-25 tahun setelah kita memasuki masa pensiun (usia 55) dan kita juga semakin lebih aktif.

Permasalahan kembali timbul karena sebagai besar masyarakat Indonesia kurang memahami persoalan investasi. Kami merasa berkewajiban untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman agar kehidupan keuangan di masa pensiun yang akan kita jalani terbebas dari masalah. Jadi dapat disimpulkan bahwa menyiapkan kebutuhan masa pensiun yang kita idam-idamkan adalah tanggung jawab kita masing-masing. Kita harus melakukan sesuatu. Anda semua adalah arsitek bagi keuangan masa depan Anda masing-masing.

Menetapkan Tujuan Pensiun Perencanaan pensiun yang efektif dimulai dengan mengidentifikasikan dan memprioritaskan tujuan pensiun. Kebutuhan masa pensiun sangat dipengaruhi oleh gaya hidup yang diinginkan. Misalkan, selama masa pensiun Anda ingin melakukan berbagai perjalanan wisata, membeli rumah untuk masa pensiun di luar negeri, atau bahkan memulai karir kedua atau memulai bisnis wiraswasta. Secara umum bagi mereka yang sudah mendekati masa pensiun, 70-90% dari gaji akhir sebelum memasuki masa pensiun merupakan tujuan keuangan yang sebaiknya Anda miliki selama masa pensiun.

Misalkan, gaji Anda adalah Rp 80 juta setiap tahunnya, paling tidak penghasilan yang seharusnya Anda miliki setiap tahunnya selama masa pensiun adalah sebesar Rp 56 juta–Rp 72 juta. Tapi, bagi mereka yang masih berusia muda, misalkan 20 tahun atau 25 tahun akan sulit untuk bisa memperkirakan hal ini. Sebagai acuan awal, minimal alokasikan 10-15% dari pendapatan kotor Anda setiap bulannya untuk kebutuhan masa pensiun ini. Ingat, monitor perkembangannnya secara berkala dan revisi bila memang dibutuhkan. Bagi Anda yang masih muda, kami sangat menyarankan agar Anda memprioritaskan kebutuhan masa pensiun ini. Beberapa kebutuhan keuangan mungkin masih dapat Anda pinjam, seperti membeli rumah atau mobil. Kalau kebutuhan, pensiun Anda tidak bisa meminjamnya. Anda harus menyiapkannya sendiri.

Kebutuhan Menabung Regular Sekarang Anda sudah mendapatkan gambaran jelas mengenai kebutuhan masa pensiun Anda. Langkah selanjutnya merupakan langkah terpenting dalam mencapai kebutuhan tersebut, yaitu menabung secara regular untuk mencapainya. Tapi, dengan berbagai kebutuhan lain, mulai dari yang jangka panjang sampai jangka pendek harus juga kita pertimbangkan, bagaimana kita dapat menyisihkan untuk kebutuhan yang masih jauh di sana? Berapa besar yang harus ditabung secara berkala untuk jangka waktu tertentu haruslah diperhitungkan terlebih dahulu. Banyak software atau tools yang bisa Anda pakai untuk menghitung kebutuhan ini. Atau Anda dapat berkonsultasi pada perencanaan keuangan mengenai hal ini. Dalam menghitung kebutuhan menabung ini juga harus dipertimbangkan beberapa hal, seperti adanya pemasukan lain yang bisa menjadi sumber pendapatan lain selain dari yang akan Anda sisihkan.

Misalkan, Anda memiliki rumah yang sebenarnya bisa Anda kontrakkan.Dengan begitu, Anda akan mendapatkan tambahan pemasukan dari hasil sewa rumah tersebut, atau Anda memiliki benefit pensiun dari perusahaan. Hal ini juga harus masuk dalam pertimbangan kita. Pertimbangan lain adalah inflasi. Inflasi menggerogoti nilai uang kita, semakin hari semakin kecil nilai tukar uang yang kita miliki karenanya. Kebutuhan masa pensiun yang masih relatif panjang, membutuhkan pertimbangan inflasi dalam perhitungannya. Dalam menghitung akibat inflasi, lebih baik menggunakan nilai yang lebih tinggi dari pada nilai yang lebih rendah. Berapa lama lagi Anda ingin pensiun, juga harus dipertimbangkan. Hal ini berkaitan dengan jangka waktu yang masih dimiliki untuk melakukan strategi menabung secara regular. Pertimbangan terakhir adalah berkaitan dengan investasi, berapa tingkat pengembalian yang Anda harapkan? Ingat nilai uang Anda tergerus dengan inflasi sehingga Anda harus melawannya dengan menginvestasikan dana tersebut dalam investasi yang memberikan tingkat pengembalian lebih baik dari inflasi.

Pentingnya “Spending Plan” Perencanaan pengeluaran atau “spending plan” merupakan proyeksi pendapatan dana pengeluaran keluarga untuk satu masa, misalkan per tahun. Pembuatan perencanaan pengeluaran merupakan pengumpulan semua ekspektasi pemasukan setiap bulannya selama satu tahun kedepan dan ekspektasi semua pengeluaran dalam bentuk tabular. Ekspektasi pengeluaran sebaiknya dipisahkan antara yang tetap dan tidak tetap. Dari catatan kedua hal tersebut, hitunglah apakah Anda surplus atau defisit setiap bulannya. Dengan informasi ini, Anda dapat memahami pola pengeluaran yang Anda lakukan setiap bulannya. Dan dengan informasi ini, Anda dapat belajar untuk mengontrol pengeluaran yang dilakukan setiap bulannya.

Dalam hal ini, perlu kiranya Anda memonitor pengeluaran yang Anda lakukan karena Anda harus juga menganggarkan untuk kebutuhan keuangan yang Anda inginkan di masa depan, yaitu kebutuhan masa pensiun. Masukkan tabungan untuk kebutuhan ini secara regular dalam pengeluaran Anda. Lakukan alokasi di awal bulan setiap pendapatan diterima. Jangan di akhir bulan karena seringkali sudah habis untuk kebutuhan-kebutuhan jangka pendek lainnya. ìPay yourself first” itulah yang sering kita dengar dari para perencana keuangan di luar negeri. Kalimat ini dapat diartikan bahwa Anda harus menyisihkan untuk diri Anda sendiri (yaitu kebutuhan jangka panjang misalkan pensiun) sebelum Anda membayar untuk orang lain, kartu kredit misalnya. Itulah program menabung untuk kebutuhan pensiun. Dan sebaiknya, Anda juga mengalokasikan pendapatan seperti bonus dan lain-lain (tidak regular) ke dalam tabungan tujuan pensiun. Karena hal ini akan sangat membantu pencapaian yang Anda inginkan.

Strategi Investasi Setelah Anda membuat alokasi tabungan regular dari pendapatan bulanan Anda, sekarang waktunya Anda menginvestasikannya. Perlu kiranya kita memahami beberapa jenis instrument investasi yang ada. Beberapa alternatif instrumen investasi yang secara hukum sudah diatur oleh pemerintah, bisa Anda dapatkan sekarang ini, seperti deposito (instrumen perbankan), obligasi, saham, reksadana.

Secara singkat, deposito adalah merupakan instrumen investasi dengan tingkat suku bunga atau tingkat pengembalian yang terendah. Investasi awal yang dibutuhkan sekitar 1 juta rupiah. Jangka waktu penempatan deposito umumnya adalah 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan. Obligasi pada dasarnya adalah surat utang yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan atau institusi kepada investor dengan janji membayar bunga secara periodik selama periode tertentu serta membayar nilai nominalnya pada saat jatuh tempo. Obligasi bisa menjadi alternatif investasi jangka panjang dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari deposito. Untuk berinvestasi di obligasi, investor harus memiliki dana yang cukup besar umumnya transaksi obligasi satu perusahaan dilakukan dalam kelipatan Rp 1 miliar. Saham adalah surat kepemilikan terhadap suatu perusahaan yang telah go public. Saham dapat diperoleh pada saat IPO (Initial Public Offering) atau di pasar sekunder. Investasi awal yang harus dikeluarkan relatif beragam, hampir berlain di setiap perusahaan sekuritas, misal Rp. 25 juta. Investor memperoleh kesempatan untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang dari laba perusahaan dalam bentuk dividen dan capital gain dari kenaikan harga saham di kemudian hari.

Reksadana adalah suatu wadah yang digunakan oleh perusahaan sekuritas untuk mengumpulkan dana dari masyarakat untuk diinvestasikan di dalam berbagai instrumen investasi dalam suatu portofolio investasi oleh manager investasi. Reksadana merupakan instrumen investasi yang memiliki resiko yang terbatas dengan tingkat pengembalian yang relatif cukup besar. Investasi awal dari reksadana cukup murah di mana dengan hanya Rp 500.000 Anda sudah dapat membeli produk reksadana dengan membeli unit penyertaan dari produk reksadana tersebut. Reksadana merupakan instrumen investasi alternatif yang sangat bagus karena memberikan beberapa manfaat bagi investor antara lain adalah akses kepada instrumen investasi seperti saham atau obligasi, pengelolaan oleh profesional manager investasi, diversifikasi investasi dengan dana relatif kecil, hasil investasi dari reksadana bukan merupakan objek pajak dan memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.

Struktur Portofolio atau Diversifikan Tentunya kita pernah mendengar satu kalimat “don’t put your eggs in one basket”. Apa arti dari kalimat tersebut? Bahwa kita jangan menempatkan semua dana yang kita miliki hanya dalam satu jenis aset saja. Karena bila terjadi kerugian, kita mengalami kerugian besar. Dari sudut pandang alokasi aset, kalimat di atas berarti mengurangi risiko portofolio dengan menambahkan jenis aset lain yang berprilaku berbeda dengan aset yang Anda miliki dalam portofolio. Hal ini biasa disebut sebagai diversifikasi portofolio. Teori diversifikasi didasari oleh kenyataan bahwa nilai beberapa aset akan naik dan turun secara bersamaan dan beberapa aset lain nilainya bergerak ke arah yang berbeda. Faktor-faktor independen di luar dari karakteristik dari sebuah investasi, seperti keadaan ekonomi, politik dan kejadian sosial bisa mempengaruhi nilai investasi tersebut. Risiko portofolio tidak dapat dihilangkan secara tuntas, tapi bisa dikurangi dengan membuat sebuah portoflio yang terdiversifikasi dimana didalamnya terdiri dari jenis aset yang berbeda-beda dimana nilainya secara historis bergerak kearah yang berbeda atau bergerak kearah yang sama tapi dengan perbedaan besar dan kecilnya perubahan yang terjadi. Konsep inilah sebaiknya Anda gunakan untuk kebutuhan pensiun Anda. jangan tempatkan hanya pada satu instrumen, tapi alokasikan kepada beberapa instrument investasi yang memiliki karakteristik yang berbeda. Satu hal lagi, karena kebutuhan masa pensiun umumnya jangka panjang, maka tempatkan lebih besar pada instrument yang memberikan potensi pengembalian yang lebih besar dalam jangka panjang. Demikianlah ulasan mengenai pentingnya perencanaan pensiun, semoga bermanfaat bagi kita semua.